BERSIHKAN DIRI SEBELUM RAMADHAN TIBA

Layaknya kedatangan tamu, maka sebagai tuan rumah yang baik kita harus melakukan sejumlah persiapan. Ramadhan adalah tamu istimewa yang akan segera datang. Persiapan diri sebelum kedatangannya merupakan sebuah kemestian. Pastikan diri kita sebelum memasuki Ramadhan hati ini sudah bersih dari penyakit-penyakitnya.Jangan sampai kita berpuasa masih memendam penyakit hati, karena akan merusak nilai pahala puasa bahkan menghilangkannya

Yang Pertama, Hasad

Hasad (iri,dengki) adalah kebencian melihat nikmat yang ada pada orang lain, dan ingin kenikmatan itu lenyap lalu berpindah kepadanya. Ini adalah bentuk penyakit hati yang termasuk kelompok dosa besar (al-Kabair). Orang pendengki adalah orang yang sengsara. Dia benci melihat orang lain mendapat kesenangan, tersiksa mendengar kawannya sukses, dan menangis, kesal dan jengkel mengetahui kompetitornya unggul, kena penyakit SMS (Senang melihat orang Susah, susah melihat orang senang)

Hasad adalah virus mematikan dan tiada obatnya kecuali harus menjauhinya. Rasulullah bersabda “Jauhilah kalian akan hasad, karena sesungguhnya hasad itu bisa memakan kebaikan. Sebagaimana api melahap kayu bakar” (dalam redaksi yang lain ‘sebagaimana api membakar rumput segar’).(Riwayat abu Dawud)

Hadits di atas menunjukkan bahaya hasad yang bisa menggunduli amal serta wajibnya menjauhi iri. Dalam hal ini, lafadz hadits di atas menggunakan majaz Isti’aroh yang seolah-olah menghidupkan api yang mati menjadi bergejolak,. Demikianlah, hasad itu merusak, ia akan melibas habis kebaikan yang pernah dilakukan seorang hamba.

Ada tiga kelompok pendengki.

Pertama, si pendengki ingin menghilangkan nikmat yang ada pada orang lain dengan trik-trik jahat. Inilah golongan penjahat. Para maling, koruptor, perampok, pejambret adalah jelas-jelas kelompok pendengki. Mereka benar-benar tega mencelakai orang yang didengkinya dan menggasak nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia secara keji.

Kedua, golongan pendengkian namum tidak berniat menghilangkan nikmat tersebut dari orang lain. Ia hanya mengelus dada dan meratapi diri sendiri saja. Ia sakit hati melihat orang lain mendapat rezeki. Golongan ini juga tercela karena seolah-olah menyalahkan kehendak Allah, menganggap Allah tidak adil serta berputus asa dengan rahmat Allah yang luas.

Ketiga, orang yang iri namun irinya dapat dikalahkan dan justru mendorong dirinya untuk berbuat baik kepada orang yang didengki. Ketika hasad menyuruh orang kepada benci, maka ia lawan dengan cinta.

Yang Kedua, Sombong.

Akibat penyakit ini sesorang tidak akan masuk surga. Sebab negeri akhirat diperuntukan untuk orang yang tidak sombong di muka bumi (QS. Al Qashash : 83) . Akibat lain orang yang sombong akan mengalami kejatuhan, sebagaimana jatuhnya iblis akibat sombong.

Lalu bagaimana menekan diri kita agar terhindar dari sifat sombong, maka tanamkan sikap tawadhu’ (rendah hati). Dan untuk mengukur memastikan diri kita terjangkit penyakit sombong atau tidak, Sa’id Hawwa dalam bukunya Al Mustkhlash fii Tazkiyatun Nafs, menyatakan bahwa :

Pertama, ketika ia berdiskusi dengan orang lain dalam suatu masalah. Apabila ia mengakui kebenaran dari perkataan lawan diskusinya dan tidak berterima kasih atas bantuan lawannya untuk mengetahui hal tersebut, maka di dalam hatinya masih terdapat kesombngan. Sebaliknya bila ia mengakui dan menerima kebenaran lawannya tersebut, berterima kasih kepadanya dan lisannya mengakui kelemahan dirinya dengan tulus, hal itu berarti ada ketawadhua’an.

Kedua, ketika memenuhi undangan orang miskin atau yang lebih rendah statusnya dari dirinya. Apabila ia merasa berat melakukannya, berarti masih ada kesombongan dalam hatinya. Dalam suatu riwayat Rasulullah melihat ada orang kaya yang duduk di sebelah orang miskin lantas ia menjauh dari si miskin dan melipat pakaiannya, maka Rasulullah berkata padanya,”Apakah kamu takut kefakirannya menular padamu?’ (HR.Ahmad).

Ketiga, ketika membawa barang-barangnya atau barang yang dibutuhkan keluarganya sendiri, tanpa dibawakan orang lain. Apabila ia merasa berat untuk melakukan hal tersebut, meski tidak ada orang yang melihatnya maka itu adalah kesombongan dan apabila ia tidak merasa berat kecuali bila dilihat oleh orang banyak, maka ia termasuk riya’ (ingin diperhatikan orang lain).

Keempat, hendaklah memakain pakaian yang sangat sederhana. Apabila ia merasa berat melakukannya dihadapan orang banyak, maka ia riya’ dan bila ia tidak mau melakukannya saat tidak dilihat orang banyak, maka itu adalah kesombongan.

Yang Ketiga, Marah.

Suatu hari, seorang laki-laki menemui Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku.” Lalu Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu marah!” Beliau mengulanginya berkali-kali, lalu bersabda, “Janganlah kamu marah.” (HR Bukhari)

Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihyâ ‘Ulûmiddîn mengatakan beberapa cara untuk mengobati penyakit mudah marah. Di antaranya adalah:

Pertama, kita harus selalu mengingat besarnya pahala orang yang dapat menahan amarah, sekaligus besarnya pahala orang yang dapat sabar dan tidak mudah marah. Selain itu, kita juga harus selalu mengingat besarnya pahala orang yang mempunyai hati yang bersih.. Di antara ayat yang menjelaskan besarnya pahala orang yang dapat menahan amarah, adalah firman Allah berikut ini: Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 133, 134).

Dalam ayat di atas, orang yang dapat menahan marah, merupakan di antara ciri orang yang bertakwa yang akan meraih surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi.

Kedua, begitu hendak marah, segeralah ucapkan a’ûdzubillâhi minas syaithânir rajîm, dan segeralah mengambil air wudhu. Karena air wudhu insya Allah dapat meredakan emosi dan amarah.

Ketiga, selalu ingatlah bahwa marah dan iri merupakan penyakit hati yang paling bahaya. Ketika marah dan iri ini terus dipelihara, maka tidak akan pernah menjadi orang yang berbahagia di dunia dan akhirat.

Keempat, pasrahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Kita harus selalu ingat bahwa semua urusan dan persoalan di dunia ini sudah diatur oleh Allah. Rizki, Allah sudah tentukan. Jabatan, duniawi juga demikian.

Kelima, perbanyaklah berdzikir kepada Allah dalam semua hal. Ketika di jalan, di mana pun berada, sebutlah terus nama-Nya. Usahakan selalu dalam keadaan mempunyai wudhu dalam semua keadaan. Karena dzikir dan wudhu, di antara cara ampuh menolak setan yang mengembuskan sifat marah. Allah juga menegaskan, siapa yang rajin mengingat dan menyebut nama-Nya, maka hatinya akan tenang. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du: 28).

Mari kita bersihkan hati kita dari penyakit iri, sombong dan marah sebelum kita memasuki bulan suci Ramadhan. Pentingnya membersihkan hati karena hati yang bersih itulah yang dilihat Allah SWT. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa-rupa kalian, juga tidak melihat harta benda kalian, akan tetapi Allah hanya melihat hati dan perbuatan kalian” (HR. Muslim). Semoga.

About abiiklil
aku adalah setitik debu

Comments are closed.

%d bloggers like this: