TIDAK ADA KETAATAN KEPADA MANUSIA DALAM BERMAKSIAT KEPADA ALLAH AZZA WAJALLA

Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

واعلم أنه لا طاعة لبشر في معصية الله عزوجل

Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada manusia dalam bermaksiat kepada Allah ‘Azza wajalla.

Dalil tentang hal ini adalah sabda Rasulullah

Shallallahu’alaihi wasallam,

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

Juga sabda beliau Shallallahu’alaihi wasallam,

عَلَى الْمَرْءِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib bagi seseorang untuk mendengar dan taat dalam apa yang ia sukai dan benci, kecuali ia diperintah berbuat maksiat. Maka bila ia diperintah berbuat maksiat, ia tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Al-Bukhari no. 2955 dan Muslim no. 1839)

Dalil-dalil ini menunjukkan bahwasanya ketaatan kepada pemerintah itu terikat dengan dua syarat:

1. Dalam perkara yang ma’ruf, sehingga tidak ada kewajiban taat dalam kemaksiatan [1].

2. Dalam jangkauan kemampuan seorang hamba. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepada orang yang berbai’at kepadanya,

كُنَّا نبُاَيِعُ رَسُولَ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلىَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، يَقُولُ لَنَا: فِيْمَااسْتَطَعْتُ

“Dulu kami membai’at Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam untuk mendengar dan menaati perintah beliau, kemudian beliau katakan kepada kami: ‘(katakanlah dalam bai’atmu):Dalam perkara yang aku mampu’.” (HR. Muslim no. 1867, lihat keterangan An-Nawawi tentang hadits ini)

Wabillahit taufiq.

[Dari Kitab Irsyaadus Saari ila Taudhihi Syarhis Sunnah lil Imam Al Barbahari, Edisi Indonesia Penjelasan Syarhus Sunnah Imam Al Barbahari Meniti Sunnah di Tengah Badai Fitnah oleh Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi, Penerbit Maktabah Al Ghuroba, hal 209-211]

About abiiklil
aku adalah setitik debu

Comments are closed.

%d bloggers like this: